Aqiqah adalah Sunnah yang sahih dari nabi Muhammad SAW seperti yang telah dijelaskan pada bab terdahulu. Menghidupkan Sunnah adalah sesuatu yang menjadi tuntunan atas setiap Muslim. Oleh karena itu, sudah sepatutnya setiap Muslim yang mampu melaksanakannya untuk menjaga dan memelihara Sunnah itu. Bagi orang yang ingin melaksanakan aqiqah, yang terbaik adalah orang yang mampu. Apabila bebrapa bentuk ibadah wajib seperti ibadah haji mengharuskan adanya kemampuan untuk melaksanakannya, maka terlebih lagi pada bentuk-bentuk ibadah Sunnah.

 

Sebagian ulama mengatakan bahwa aqiqah juga disyariatkan kepada orang miskin yang tidak memiliki biaya untuk pelaksanaannya. Bahkan, Imam Ahmad memandang disunahkan meminjam uang bagi orang yang tidak mampu untuk membeli hewan aqiqah dan menyembelihnya sebagai upaya menghidupkan as-Sunnah. Ada beberapa pernyataan beliau mengenai hal ini, antara lain :

 

Al-Khallal menukilkan dalam riwayat Abu Harits, beliau ditanya tentang seseorang yang meminjam uang untuk pelaksanaan aqiqah. Beliau menjawab, “Semoga Allah memebrinya ganti. Dia telah menghidupkan as-Sunnah.” Alasannya syar’i. Bahkan, subtansinya tidak lain adalah bid’ah, pamer kekayaan dan gosip. Sebagian dari mereka juga melakukannya pada hari kedua kelahiran. Sebagian yang lain melakukannya pada hari ketujuh, kedua dan ketiga kelahiran. Sebagian yang lain melakukannya hanya pada salah satu dari hari-hari tersebut. Ini mereka lakukan dengan alasan tidak memiliki biaya untuk melaksanakan aqiqah. Padahal, biaya untuk pelaksanaan aqiqah jauh lebih ringan dan murah dibandingkan bid’ah yang mereka lakukan dengan membuat kue pesta tersebut, tentu mereka akan memiliki biaya yang cukup untuk aqiqah, bahkan lbih. Sebab, kue tart yang dibuat itu membutuhkan biaya yang cukup besar.

 

Satu potong keju atau kurang dari itu semestinya cukup untuk untuk membuat satu kue tart. Mereka membuat kue ini dan membagi-bagikan kepada sanak-famili, tetangga dan kenalan. Padahal, hal ini tidak harus mereka lakukan dan syariat juga tidak menganjurkan mereka untuk melakukannya, walaupun pada dasarnya memberi makan orang lain dianjurkan oleh syariat. Tetapi, hal itu hanya erlaku apabila tanpa disertai dengan meninggalkan Sunnah. Seandainya biaya untuk membeli kue tart dan berbagi macam panganan tersebut mereka gunakan untuk membiayai pelaksanaan aqiqah, tentu itu cukup atau bahkan lebih. Kemudian, masih mereka tambahkan dengan hidangan pencuci mulut pada malam ketujuh kelahiran yang mereka bagi-bagikan untuk keesokan harinya. Ini justru dilakukan oleh orang miskin di kalangan mereka. Sebagian dari mereka mengganti hidangan pencuci mulut dengan beragam gula-gula yang menyerupai hidangan pancuci mulut. Mereka sebut dengan istilah Mughazdrat atau Nutsur. Ini semua termasuk dalam kategori pemborosan, bid’ah, suka pamer, kesombongan, meninggalkan Sunnah, tidak mengerjakannya atau mencari berkahnya.

 

Kemudian, masih mereka tambah lagi dengan satu kebiasaan tercela. Yaitu seluruh anggota keluarga harus memakai baju baru dan berpenampilan baru. Seisi rumah juga harus tampil baru. Sampai karpet pun mereka ganti dengan yang baru, dan seterusnya. Semoga Allah SWT memberikan rahmat kepada kita semua. Coba perhatikan banyaknya biaya yang harus dikeluarkan dan kemana dibelanjakan. Dengan ini semua mereka masih berusaha untuk mengemukakan alasan bahwa mereka tidak melaksanakan aqiqah karena tidak mampu. Sebagian dari mereka bahkan berutang ke sana ke mari untuk mengadakan pesta tersebut dan beralasan bahwa aqiqah tidak wajib mereka lakukan.

 

Mereka sama sekali tidak sibuk dengan utang untuk pelaksanaan aqiqah, tapi justru sibuk memikirkan bagaimana caranya memperoleh pinjaman untuk mengadakan pesta-pesta yang bertoalk belakang dengan anjuran dan tuntutan syariat. Meminjam uang untuk melaksanakan aqiqah akan menyebabkan si peminjam tidak merasa kesulitan untuk mengembalikan pinjaman tersebut. Sama seperti qurban, karena keberkahan mengerjakan Sunnah. Demikian pada setiap pelaksanaan Sunnah. jasa aqiqah

 

Tidak diragukan bahwa setan yang terkiutuk berusaha membinasakan hal itu supaya mereka tidak mendapatkan keberkahan  mengerjakan Sunnah. Karena, melaksanakan aqiqah adalah keberkahan, kebaikan dan biayanya pasti diganti. Biaya aqiqah dibandingkan dengan orang yang mengadakan pesta-pesta tersebut tergolong sangat ringan. Pada aqiqah terdapat pahala yang esar, sementara pada peserta-peserta tersebut justru sebaliknya. Seandainya mengerjakan bid’ah tersebut tidak  tercela, (tetap merugi karena) selain biaya yang tidak akan diganti dan tidak ada pahala, belum lagi rasa penat dan lelah yang dirasakan dalam melaksanakannya, maka pelaksanaannya adalah kelelahan duna dan akhirat.

By rifep