Penerjemah auditorial paling handal menerjemah dengan mendengarkan dan menanggapi secara lisan, baik terhadap orang lain atau suara di dalam benak mereka sendiri. Bagi mereka, belajar hampir selalu diikuti dengan berbicara kepada diri sendiri: “Apa yang saya ketahui tentang hal ini? Apakah ini bisa dimengerti? Apa yang bisa saya kerjakan dengan ini?” Hasil pelatihan yang dianalisis dan sudah dipraktikkan oleh calon interpreter bahasa inggris di Depok. 

Seringkali mereka memiliki kecerdasan musikal yang tinggi. Mereka merupakan peniru yang sangat baik; mampu mengingat lelucon dan seluruh percakapan dengan ketepatan yang mengagumkan. Mereka sangat memperhatikan ciri irama dari suatu teks lisan atau teks tertulis: pola titinada, nada, volume, tempo. Proses ingatan mereka cenderung lebih linier daripada penerjemah umumnya. Jika penerjemah lain memahami seluruh gagasan sekaligus dalam bentuk gambar spasial, maka pembelajar auditori mempelajarinya dalam bentuk rangkaian tahap yang harus diikuti menurut urutan yang tepat sama.

Penerjemah auditori-eksternal lebih suka mendengarkan orang menggambarkan sesuatu hal sebelum dapat mengingatnya. Jika diberi sebuah gambar atau tabel statistik, mereka akan berkata, “Bisakah Anda menjelaskannya untuk saya?” atau “Maukah Anda membicarakan gambar ini dengan saya?” Penerjemah dengan model auditori-eksternal mampu menerjemah dengan baik dalam situasi alami di negara asing, tetapi juga bisa menerjemah dengan baik di lab bahasa, percakapan di dalam kelas, atau latihan dialog. Biasanya mereka paling tidak berminat dengan segala bentuk “pengetahuan bacaan” dalam bahasa tersebut; mereka ingin mendengar atau membicarakannya, bukan membaca atau menuliskannya. Sesekali tata bahasa dan kamus tampak bermanfaat, tetapi kebanyakan tidak relevan. Bagi penerjemah seperti ini, pengucapan “asli (native)” amat penting. Tak cukup hanya dengan berkomunikasi dalam bahasa asing; mereka ingin terdengar seperti penutur aslinya.

Penerjemah auditori-eksternal cenderung menyukai penerjemahan lisan (interpreter), karena alasan-alasan yang sudah jelas. Ketika menerjemahkan teks tertulis, biasanya teks sumber maupun terjemahan yang dihasilkan dibacakan untuk diri sendiri, baik dalam hati saja atau disuarakan dengan lantang.

Mereka merupakan penyulih suara video yang handal karena mampu mendengar irama terjemahan mereka sendiri sebagaimana irama yang akan disuarakan pada dialog para aktor. Irama dan aliran teks tertulis selalu sangat penting bagi mereka. Mereka cepat bosan dengan teks yang iramanya “datar” atau monoton, sedangkan teks yang berirama menyentak-nyentak dan naik-turun akan mengganggu dan membuat mereka sebal. Sering mereka tak habis pikir dengan orang yang tidak peduli dengan irama teks-pengarang yang tulisannya “buruk” (yang buat mereka berarti menulis dengan irama yang kacau) atau penyunting teks sasaran yang “memperbaiki” terjemahan mereka dan dalam proses itu menjadikan irama terjemahan tersebut kaku. Penerjemah auditori-eksternal bekerja dengan baik da lam kelompok kolaboratif yang mengandalkan kemampuan anggota-anggotanya untuk mengartikulasikan proses pemikiran mereka. Mereka juga menikmati bekerja di kantor dengan beberapa penerjemah yang mengerjakan teks serupa sambil terus-menerus berkonsultasi satu sama lain, saling membandingkan catatan, mengolok-olok dengan lantang penulisan teks yang jelek, dan lain lain.

Penerjemah auditori-internal paling baik belajar dengan berbicara pada diri sendiri. Sekitar tahun 2011 penulis diajak menyaksikan pelatihan juru bahasa yang diadakan oleh salah satu lembaga pusat bahasa di jakarta. Calon interpreter diberi tugas untuk menerjemah rekaman audio langsung secara konsekutif disampaikan di depan kaca cermin yang sudah disediakan, rekaman itu diputar berulang-ulang dengan kecepatan yang bervariasi. Diantara mereka yang penulis kenal sekarang sudah menjadi interpreter handal dan membuka lembaga jasa interpreter di jakarta.